Selamat Datang

This is the post excerpt.

Iklan

Tidak berlebihan rasanya apabila saya mengucapkan selamat datang. Blog ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya dan salah satu media bagi saya untuk belajar menulis. Mohon saran dan masukan dari pembaca apabila terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam tulisan di blog ini. Terima kasih 🙂

Industri Keuangan Syariah Indonesia, Ibarat Bus Mewah dengan Sedikit Penumpang

Oleh : Muhammad Ichsan Hadjri, ST, MM

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Unsri

“Industri keuangan syariah di Indonesia ibarat bus mewah dengan sedikit penumpang”, ujar Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK, dengan cukup lantang pada suatu kegiatan forum ekonomi syariah. Analogi tersebut dinilai dapat menggambarkan kondisi Industri Keuangan Syariah (IKS) di Indonesia. Jika diamati lebih lanjut, pelaku IKS di Indonesia sudah cukup banyak dengan produk-produk yang cukup representatif dan variatif. Kemudian apa masalahnya? Masalah utamanya adalah minimnya demand akan produk IKS.

Pelaku IKS, termasuk di dalamnya perbankan syariah yang dominan di Indonesia diibaratkan bus mewah dengan fasilitas yang cukup lengkap. Berbagai produk-produk perbankan syariah telah tersedia dan siap memenuhi kebutuhan nasabah. Mulai dari produk pendanaan hingga pembiayaan. Namun, bus mewah tentu memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit. Perbankan syariah juga demikian, perlu biaya untuk menggaji pegawai, gedung, fasilitas kantor, pengembangan teknologi, dan sebagainya. Diperlukan total revenue yang lebih besar dari total cost agar perbankan syariah dapat memperoleh laba. Total revenue tentu dominan didapatkan dari profit margin dan bagi hasil nasabah pembiayaan. Perbankan syariah membutuhkan nasabah dengan kuantitas dan kualitas yang baik agar dapat bertahan dan berkembang.

Fenomena yang terjadi adalah siapa seharusnya nasabah perbankan syariah? Saat ini yang terjadi perbankan konvensional dan syariah bersaing merebut “kue” nasabah yang sama. Perbankan syariah mau tidak mau mengambil “sisa” nasabah kredit yang ditolak bank konvensional yang tidak berkualitas. Ibarat bus mewah yang mengangkut sembarang penumpang, yang penting bus terisi penuh dengan penumpang dulu. Apakah penumpang akan membayar ongkos perjalanan? Wallahualam.

Alhasil banyak bank syariah dihadapkan pada tingginya tingkat Non Performing Financing (NPF) dan memasuki masa “blackout”. Modal perbankan syariah yang seharusnya digunakan untuk ekspansi malah tersedot untuk pembentukan cadangan pembiayaan macet. Beberapa bank syariah bahkan kesulitan dalam permodalan.

Salah satu faktor utama penyebab terjadinya fenomena tersebut adalah minimnya demand akan produk IKS dikarenakan minimnya nasabah yang benar-benar “butuh” produk IKS. Lalu, seperti apa seharusnya nasabah IKS?

Indonesia yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia merupakan pasar terbesar bagi industri halal, khususnya industri halal food, fashion, dan kosmetik. Namun Indonesia belum menjadi pelaku industri halal. Padahal Indonesia mampu untuk menjadi produsen industri halal, baik untuk dikonsumsi di negara sendiri maupun ekspor ke negara lain. Saat ini industri halal food terbesar dipegang oleh Thailand, sedangkan Korea Selatan merajai industri kosmetik halal dunia. Begitu juga dengan industri halal fashion dunia yang didominasi oleh China.

Industri halal merupakan pengembangan dari halal supply chain, di mana proses produksi barang atau jasa dari hulu ke hilir memiliki standar dan sertifikasi halal.

Indonesia diyakini mempunyai sumber daya yang sangat mumpuni dalam penerapan halal supply chain dalam industri halal. Potensi inilah yang dapat dikembangkan untuk menumbuhkan sektor riil bidang industri halal di Indonesia yang akan menumbuhkan demand bagi industri keuangan syariah di Indonesia.

Setali tiga uang, perekonomian sektor riil dapat tumbuh sejalan dengan tumbuhnya industri keuangan syariah. Indonesia telah memiliki sumber daya yang mampu untuk mengembangkan hal tersebut. Tinggal bagaimana peran pemerintah dan seluruh stakeholders ekonomi Islam dalam mewujudkan serta mengembangkan potensi industri halal tersebut.

Siapa yang salah?

*Sebuah pemikiran dari seorang anak yang masih dalam proses belajar, Muhammad Ichsan Hadjri.

Saya belanja di sebuah minimarket. Total harga belanjaan saya sekitar Rp 24.900. Saya memberikan uang Rp 30.000 kemudian diberikan kembalian Rp 5.000 tanpa ada konfirmasi dan izin dari petugas kasir. Ke mana sisa Rp 100 saya? Saya juga tidak terlalu menghiraukan. Nilainya juga kecil. Cuma Rp 100.

Beberapa hari kemudian saya belanja di mini market yang berbeda. Total belanjaan Rp 47.800. Saya beri uang Rp 50.000 dan diberikan uang kembalian Rp 2.000 juga tanpa konfirmasi dan izin. Ke mana sisa Rp 200 saya? Ah, nilainya kecil juga. Biarkan sajalah.

Dua minimarket berbeda dengan petugas kasir yang berbeda. Namun kasus yang dialami sama. Apakah hal tersebut bisa dikatakan menjadi suatu budaya lazim yang “sudah biasa”?

Ketika saya berada di lampu merah, kebetulan lampu merah masih ada sisa sekitar 10 detik lagi sebelum berubah menjadi lampu hijau. Mobil saya posisi paling depan. Terlihat bahwa tidak ada mobil lagi dari arah berlawanan yg melintas alias jalanan di depan sudah kosong dan secara kasat mata aman untuk dilewati. Pengemudi mobil di belakang saya membunyikan klakson, tanda untuk menyuruh saya segera maju menerobos lampu merah. Loh, padahal lampu merah kita masih 10 detik lagi? Karena rombongan belakang kompak bunyikan klakson, akhirnya saya ikut maju menerobos lampu merah. Saya ikut arus “mencuri” hak atas lampu hijau milik pengemudi lain dari arah yang berlawanan.

Satu contoh lagi. Sependek pengetahuan saya, tarif parkir kendaraan roda empat di Palembang resminya sebesar Rp 2.000. Saya parkir, kemudian memberikan uang Rp 5.000 kemudian diberikan kembalian Rp 2.000 tanpa izin atau persetujuan dari saya. Kemudian juru parkir langsung pergi meninggalkan saya. Saya juga membiarkan hal tersebut terjadi. Ah, nilainya juga kecil. Cuma Rp 1.000. Terjadi “pembiaran” dari diri saya atas peristiwa tersebut.

Saya iseng-iseng mencari definisi dari mencuri. Menurut KBBI, mencuri adalah mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah.

Lantas, siapa yang salah? Yang mencuri atau yang membiarkan pencurian itu terjadi?

Udahlah, kan nilainya kecil juga. Cuma Rp 100, Rp 200, dan Rp 1.000. Anggap aja sedekah. Bukan itu masalahnya. Kalau niat saya sedekah, berbeda caranya. Mereka kasih saya uang kembalian full, kemudian saya berikan lagi uang kembalian ke mereka sebagai sedekah dari saya. Namun mental menjadi “pencuri” sudah tertanam ketika si pencuri berhasil dan yang dicuri melakukan “pembiaran”. Hari ini berhasil dan sukses mencuri “hak” lampu hijau pengemudi lain, berhasil mencuri Rp 100, Rp 200, atau Rp 1000 yang nilainya tidak seberapa. Bagaimana dengan besok? Suatu tindak pencurian besar bisa terjadi melalui suatu tindakan pencurian kecil-kecilan yang selalu berhasil. Bukan nilainya, namun mental manusianya dan menjadikan budaya mencuri suatu hal yang “wajar dan biasa saja”. Wallahualam.

Pergeseran zaman, budaya atau teknologi?

*Sebuah pemikiran dari seorang anak yang masih dalam tahap belajar, Muhammad Ichsan Hadjri.

“Lebaran zaman dulu lebih meriah ya dari lebaran zaman sekarang (baca: zaman now)” atau “Zaman kita kecil dulu, suasana lebaran lebih terasa ya”. Rasanya setiap lebaran “akhir-akhir” ini, kedua pernyataan tersebut sering terdengar di telinga saya. Kebanyakan orang menyebutnya dengan frase “Zaman dulu” dan “Zaman now”. Apa benar zaman yang sudah bergeser? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Loh, kok seperti itu?

Menurut KBBI, zaman adalah jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai perubahan suatu masa. Apakah “lebaran zaman dulu” dan “lebaran zaman now” versi kita terdapat perbedaan yang sangat signifikan dan menandai perubahan suatu masa? Seperti contohnya “lebaran zaman nabi” dan “lebaran zaman kita”? Kalau rentang waktu seperti itu, bisa jadi karena faktor perubahan zaman yang membuat lebaran kita seolah-olah berubah.

Saya berpendapat mengapa “lebaran zaman dulu” terlihat lebih meriah dibanding “lebaran zaman now”. Pergeseran zaman mungkin ikut andil dalam merubah “kemeriahan” lebaran. Namun akar dari perubahan zaman adalah teknologi. Faktor teknologi-lah yang telah menggeser budaya tradisi lebaran kita menjadi lebaran zaman now yang akan bermuara menjadi suatu “perubahan zaman” yang sesungguhnya. Mengapa seperti itu?

Kemajuan teknologi telah membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan cepat. Dahulu apabila kita tidak sempat bertemu langsung dengan handai taulan, setidaknya kita mengirimkan kartu lebaran. Rasa-rasanya hampir di setiap rumah kita dapat ditemui kartu lebaran yang “membuat meriah” suasana rumah kita. Zaman now? Masih ada, namun jumlahnya berkurang signifikan.

Zaman now, orang-orang lebih memilih mengirimkan ucapan lebaran melalui pesan singkat, bisa menggunakan platform SMS maupun media sosial. Dengan sekali tekan, bisa mengirimkan pesan secara massal (broadcast) ke ratusan kontak handai taulan kita. Jadi sekarang rumah kita tidak ada kartu lebaran lagi. Ga terlalu meriah lagi dong?

Belum lagi remaja, muda-mudi, hingga paruh baya berkeliling komplek bersama-sama sambil mengumandangkan takbir. Zaman now? Masih ada, namun jumlahnya sudah jauh berkurang (khususnya di daerah perkotaan yang teknologinya lebih maju).

Zaman now remaja, muda-mudi (termasuk saya sendiri), paruh baya, hingga para orang tua lebih memilih chat melalui group atau conference di media sosial. Tetap bertemu dengan rekan-rekan, mungkin bisa bertakbir bersama, namun lewat dunia maya. Loh, komplek sekitar kita jadi tidak meriah lagi nih?

Masih banyak lagi budaya-budaya saat lebaran yang telah bergeser karena kemajuan teknologi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Kemajuan teknologi tidak akan bisa dihindari, termasuk pergeseran budaya hingga perubahan zaman. IPTEK berkembang pesat, bahkan bisa menggeser suatu kearifan lokal. Hal yang menjadi intropeksi kita bersama, apakah kemajuan teknologi seimbang dengan kemajuan IMTAQ kita? Hanya kita yang dapat menjawabnya masing-masing. IMTAQ akan menjadi perisai diri dan lentera yang akan menuntun kita mengarungi perubahan zaman akibat teknologi.

Keseimbangan IPTEK dan IMTAQ akan membawa umat manusia menuju suatu peradaban yang maju dan beradab. Jika diibaratkan, IPTEK adalah suatu jalan menuju perubahan zaman ke arah yang maju, sedangkan IMTAQ adalah lentera yang menerangi langkah kita dalam berjalan. IPTEK tanpa IMTAQ seperti berjalan dalam kegelapan. Bisa saja langkah kita tidak sesuai jalur, masuk jurang, atau malah berputar-putar di tempat. Wallahualam.

Memanusiakan Manusia

Saya pernah membaca sebuah tulisan di media sosial, isinya “manusia berasal dari tanah, makan dari hasil tanah, dan hidup di atas tanah. Lantas, mengapa manusia memiliki sifat langit?”

Saya terdiam sejenak. Kalau main logika kecil-kecilan, seluruh manusia berasal dari tanah dan makan dari hasil tanah. Berarti seluruh manusia sama dong? Logika berkata seperti itu, namun rasanya ada yang mengganjal hati kecil saya.

Sekitar tahun 2011, saya ingat pernah datang ke suatu kantor (bukan tempat saya bekerja sekarang ataupun tempat saya bekerja sebelumnya). Lokasi kantornya ada di pulau Jawa. Saya datang ke sana pada saat saya baru lulus kuliah S1 dan dapat panggilan wawancara kerja di sana. Ketika sedang menunggu giliran wawancara, ada seorang Bapak (mungkin bos) dengan nada sedikit arogan berbicara ke tamu yang ingin menemuinya.. sekilas percakapannya:

-Bos : “kamu tau kan saya ini sibuk, tidak bisa urusin yang sepele2 kayak kamu”.

-Tamu: berkata dengan sopan “mohon maaf bapak, saya sudah konfirm ke staff bapak untuk menemui Bapak. Saya sudah menunggu Bapak selama 3 jam, saya mohon waktu Bapak sedikit untuk mewawancarai Bapak sebentar saja”

-Bos : “Udahlah, saya lagi ga ada waktu dan ini tidak penting bagi saya”

Kemudian si Bos pergi meninggalkan si tamu..

Saya membuat kesimpulan sendiri, bahwa si tamu telah berusaha “memanusiakan” si Bos. Berkata sopan dan tingkah lakunya juga sewajarnya. Namun, apakah si bos sudah “memanusiakan manusia”?

Mungkin si bos sibuk, sehingga beliau belum bisa “memanusiakan manusia”. Padahal tidak ada salahnya si bos berkata dengan lisan yg sopan. Apakah dengan berkata-kata yang baik, harta si Bos akan berkurang? Apakah harga dirinya jatuh?

Saya jadi berpikir. Rasa-rasanya Si Bapak Bos itu jabatan serta hartanya lebih daripada si tamu. Namun mengapa beliau belum bisa “memanusiakan manusia”? Apakah hubungan antara jabatan yang tinggi serta harta yang banyak tidak linier terhadap peningkatan “memanusiakan manusia”?

Mungkin tanah yang tidak terkena gaya gravitasi bumi yang bisa terbang ke langit.

Sedikit pendapat mengenai linieritas bidang ilmu

Sedikit tergelitik membaca sebuah artikel beberapa hari yg lalu. Artikel mengenai linieritas keilmuan. Inti artikel tersebut, bahwa apabila kita belajar suatu bidang ilmu A, maka harus selalu belajar pada bidang ilmu A tersebut. Malah saya menangkap artikel tersebut seolah2 berkata “haram” apabila kita mengenyam pendidikan di bidang ilmu A, kemudian mengambil pendidikan lanjutan bukan di bidang ilmu A tersebut. Apakah kita lupa bahwa ilmu itu semuanya berasal dari Allah? Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan dari seluruh ilmu pengetahuan di bidang apapun adalah mengungkap fenomena yang terjadi di alam semesta, mengungkap kebesaran Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Bidang ilmu pengetahuan apapun akan bermuara kesana.

Lantas, apakah seorang dokter tidak boleh belajar teknologi? Padahal seorang dokter yang mengerti teknologi mungkin dapat mengembangkan suatu alat canggih yang berguna bagi ilmu kesehatan.

Apakah seorang ahli ekonomi tidak boleh ambil pendidikan lanjutan di bidang pertanian? Padahal bisa saja ahli ekonomi tadi bisa memberi solusi bagaimana menciptakan swasembada pangan.

Seorang ahli teknik tidak boleh ambil kuliah lanjutan di bidang manajamen? Padahal manajemen adalah ilmu yang bisa diterapkan di bidang ilmu apapun, dan bidang ilmu apapun membutuhkan ilmu manajemen.

Manusialah yg membuat ilmu pengetahuan menjadi terkotak2. Semua ilmu itu bisa dipelajari dan diketahui, hanya pelajaran mengenai KAPAN KITA WAFAT dan/atau SIAPA JODOH KITA KELAK yang mungkin tidak bisa kita pelajari dan merupakan HAK VETO dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Pendapat saya, tidak penting bidang ilmu apa yg kita kuasai, namun seberapa besar ilmu tersebut bisa berguna bagi sesama dan seberapa besar kita bisa berbagi kepada orang lain melalui ilmu tersebut. Wallahuallam.

Sekilas mengenai Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia

Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) adalah organisasi para akademisi dan praktisi untuk melakukan pengkajian, pengembangan, pendidikan dan sosialisaasi Ekonomi Islam. IAEI dideklarasikan pada tanggal 3 Maret 2004 di Kampus Universitas Indonesia Salemba, setelah sehari sebelumnya menyelenggarakan Konvensi Nasional Ekonomi Islam di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta.
IAEI dideklarasikan oleh para akademisi dan praktisi Ekonomi Islam di Indonesia. Tokoh-tokoh yang ikut menandatangani deklarasi IAEI, antara lain adalah : Burhanuddin Adullah (Gubernur BI), Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua BAZNAS Achmad Subianto, Ketua PSTTI PPsTUI Mustafa Edwin Nasution, Pakar Ekonomi Unhas Prof. Dr. Halide dan Dirut BMI A. Riawan Amin.
Berdasarkan konvensi nasional dan deklarasi IAEI, Mustafa Edwin Nasution Ph.D (mewakili kalangan akademisi) dan Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS (mewakili praktisi) dipilih dan ditetapkan sebagai ketua umum dan wakil ketua umum IAEI. Selain itu, konvensi juga mengamanahkan kepada Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum terpilih untuk membentuk struktur kepengurusan secara lengkap yang kemudian dikukuhkan dalam Muktamar I di Medan. Muktamar I IAEI dilaksanakan tanggal 19 September 2005 dan berhasil mensahkan AD/ART IAEI dan blue print Ekonomi Nasional yang berbasis syariah.
Sebagai organisasi para akademisi dan praktisi, IAEI bertujuan untuk membangun jaringan dan kerjasama dalam mengembangkan ekonomi Islam, baik nasional maupun Internasional. Untuk mencapai tujuan ini, IAEI mempunyai beberapa program kerja yang beberapa diantaranya telah direalisasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan seperti : Simposium MEnyusun Kurikulum Ekonomi Syariah untuk Program D III, S1, S2, s3 DAN DISERAHKAN KEPADA Dirjen Dikti Depdiknas dan Departemen Agama, seminar RUU Perbankan Syariah, Aliansi Sinergis dengan MES, PKES, ASBISINDO, dan AASI, Launching kartu Bank Syariah Mandiri (BSM Card), Launching Holistic Management, dll.

Visi :
Menjadi wadah para pakar Ekonomi Islam yang memiliki komitmen dalam mengembangkan dan menerapkan Ekonomi Syariah di Indonesia.
Misi :

  1. Memberikan kontribusi nyata kepada pemerintah baik pemikiran konstruktif maupun aksi riil dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang berkeadilan,
  2. Menyiapkan sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas di bidang ekonomi dan keuangan Islam melalui lembaga pendidikan dan kegiatan pelatihan,
  3. Membangun sinergi antara lembaga keuangan syariah, lembaga pendidikan dan pemerintah dalam membumikan ekonomi syariah di Indonesia,
  4. Membangun jaringan dengan lembaga-lembaga Internasional, baik lembaga keuangan, riset maupun organisasi Investor Internasional,
  5. Memajukan Ekonomi Islam melalui pengkajian dan penelitian terhadap berbagai potensi kreatif untuk pengembangan dan pelaksanaan Ekonomi Islam, baik Nasional maupun Internasional.

Sumber :

http://www.iaei-pusat.org/id/